Monday, March 2, 2015

Cara Membuatnya

Tahu Telor Semarangan

Berbicara mengenai tahu, pada jaman tempo daoeloe di kalangan masyarakat Semarang, dapat kita jumpai dua macam masakan yang benar-benar khas Semarang, yang bahan pokoknya terbuat dari tahu.

Yang pertama ialah tahu “ndog" atau tahu telur. sesuai dengan namanya, masakan itu memang dibuat, terutama dengan menggunakan bahan baku tahu dan telur, dan telur ini bukan teiur ayam tetapi telur itik. Disamping itu juga menggunakan sejumlah bahan yang lain; yang jumlahnya tidak terlalu banyak, lagi pula mudah didapat, yakni brambang dan bawang, udang,merica,daun bawang selederi dan garam.

Adapun cara membuatnya demikian: Mula-mula tahu yang telah disediakan diremat-remas dengan menggunakan tangan hingga halus. Selanjutnya dicampur dengan merica, udang, bawang dan garam yang masing-masing dalam kadar yang cukup sebelumnya telah dihalus kan menjadi satu. Sesudah selesai, acuan itu dicampur dengan brambang yang telah dirajang tipis-tipis dan daun bawang seledri yang telah dipotong kecil-kecil dan diaduk dengan cairan telur itik. Kemudian digoreng dalam bentuk bulatan-bulatan dengan garis tengah lebih kurang 6cm , dan setelah matang diangkat dan disajikan diatas piring dengan disertai sambal yang terbuat dari bawang putih, kacang goreng dan cabai rawit yang ditumbuk halus disertai dengan kecap dan sedikit cukak.

Disamping tahu ndog dalam bentuk tersebut di atas,kadang-kadang juga terjumpai tahu ndog yang dibuat dalam bentuk bulatan yang lebih besar, lebih kurang sebesar satu alas cangkir.dalam menyajikannya kadang2juga disertai dengan petis dan kol yang dirajang tipis-tipis.

Pada masa tempo doeloe hingga tahun-tahun sekitar 1950-an di kota Semarang pernah terdapat seorang penjual “tahu ndog”yang terkenal namanya Wak Kepis, berasal dari kampung Kebon Kenap dan membuka dasarannya pada sore hingga malam hari di jalan. Ambengan (sekarang jalan. Letjen MT Haryono), tidak begitu jauh dari kampungnya. Kecuali "tahu ndog", pada waktu itu Wak Kepis juga menjual nasi babad dan tahu goreng.

Selain tahu ndog, masakan khas Semarang yang lain yang bahan bakunya terbuat dari tahu ialah "jangan cemplung". Masakan ini merupakan suatu masakan yang cukup menyegarkan sangat nyaman, sedangkan cara membuatnya juga tidak begitu susah. Kecuali tahu, untuk membuat "jangan cemplung" tsb. diperlukan telur itik, brambang bawang, udang, garam, taoge, kol, merica dan daun bawang seledri.
 
Mula-mula tahu yang telah di sediakan diremas-remas hingga halus. selanjutnya dicampur dgn bawang putih, merica. udang dan garam, yg masing-masing dengan kadar yang cukup juga telah ditumbuk halus. Setelah itu. acuan tersebut diaduk dgn mengguna kan cairan telur itik, dari di goreng dalam bentuk bulatan-bulatan yang kecil, dengan jalan memasukkannya dalam minyak yang panas, dengan menggunakan sebuah sendok makan. Taoge yang telah disedia kan lalu direbus dalam sebuah panci dengan menggunakan air secukupnya, bersama-sama dengan kol dan daun bawang seledri yang telah dipotong kecil-kecil. Bersamaan dengan itu dicampurkan merica yang telah ditumbuk halus, garam secukupnya dan brambang rajangan yang sebelumnya telah digoreng.

Setelah mendidih, bulatan-bulatan tahu yang telah digoreng segera dimasukkan dan beberapa waktu kemudian diangkat dan disajikan dalam sebuah pinggan.

Seperti telah dikemukakan diatas “jangan cemplung” merupakan sebuah masakan yang cukup menyegarkan dan lezat rasanya, lebih-lebih jika dimakan hangat-hangat.

Gimbal Urang dan Tahu Telor

Gimbal Urang

Pada waktu itu di kota Semarang sebenarnya juga sudah terdapat para penjual tahu goreng dan gimbal urang (udang), yang menjualnya dengan menggunakan pikulan, tidak banyak ubahnya dgn penjual tahu goreng lain gimbal urang yang sekarang ini, pada malam hari masih banyak bersliweran, tetapi tidak menjual tahu pong, seperti yang dijual bah Urip.

Di samping itu, khusus mengenai gimbal urangnya. jika dlbandingkan dengan gimbal urang yang dijual mbah Urip dengan jujur juga harus diakui, bahwa para penjual tahu goreng dan gimbal urang itu "kalah" benar. Gimbal urang mbah Urip dibuat dengan menggunakan udang yang terpilih, yang besar, dan agak istimewa pula racikan bumbu-bumbunya.

Lain daripada itu, mbah Urip juga masih mempunyai sebuah keistimewaan, jika mengambil tahu-tahu yang telah digorengnya, yang di taruhnya dalam sebuah "serok", tidak menggunakan "susuk", akan tetapi justru menggunakan supit yang terbuat dari kayu. Hal ini sudah terang bukan tidak ada sebab musababnya, oleh karena dengan cara demikian, kata orang, ia merasa akan lebih mudah menghitung potongan-potongan tahu yang dijualnya.

Dengan teriakan "hu"-nya yang khas, mbah Urip mengawali penjualan tahu dan gimbal urangnya pada sore hari kira-kira jam empat dan setelah ke sana kemari lebih kurang tiga jam lamanya, biasanya masakan yang dijualnya telah ludes, tiada lagi bersisa.

Setelah mbah Urip muncul beberapa orang lain, yang mencoba mengadu nasib dengan berjualan tahu pong, di antaranya ada yang membuka kios bertenda di jalan. Peloran - sekarang jalan. Gajah Mada. Dan seperti halnya tahu pong mbah Urip, tahu pong yang dijual oleh kios yang terletak di jalan. Peloran itu juga sangat terkenal, hingga termasyhur dengan nama tahu pong Peloran.

Di jalan. Jagalan, di kompleks halaman bioskop yang terdapat di jalan itu, juga terdapat sebuah kios yang menjual tahu pong dan gimbal urang yang tidak kurang terkenalnya. Bahkan seperti halnya kios tahu pong di jalan. Peloran kios tahu pong di kompleks halaman bioskop Jagalan itu juga menyediakan telur goreng, sebagai pelengkap. tahu pong dan gimbal urang yang dijualnya.

Sekalipun namanya telur goreng, telur itu bukan telur itik yang di goreng dengan jalan didadar atau diceplok dibuat telur mata sapi, akan tetapi telur itik, yang sebelum digoreng telah direbus lebih dulu. Setelah telur dikuliti dan dibiarkan berada dalam minyak yang panas hingga kulitnya "kemripik", telur itu kemudian potong-potong dan disajikan dalam suatu piring bersama-sama dengan tahu pong dan gimbal urang yang keduanya juga telah dipotong kecil dengan diberi sambal, petis dan daun kol yang dipotong tipis-tipis.

Hingga akhir 1970an, kios tahu pong dan gimbal urang di kompleks halaman bioskop Jagalan itu masih ada dan menurut keterangan dari sejumlah orang penduduk "kuno" kota Semarang, merupakan kios tahu pong dan gimbal urang yang paling tua sendiri di kota Semarang, yang sedari tempo doeloe hingga sekarang terus menerus aktif, bergerak da lam bidang "profesi"nya.

Sunday, March 1, 2015

Tahu Pong

Tahu Pong Semarang

Di kalangan masyarakat Jawa terdapat sebuah pepatah yang berbunyi "Negara mawa tata desa mawa cara". Pepatah tersebut yang senilai artinya dengan pepatah Melayu “Lain lubuk lain ikannya lain padang lain pula belalangnya", mengandung arti maknawi bahwa tiap-tiap daerah tentu memiliki adat istiadat tersendiri yang berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Perbedaan itu yang terkadang demikian menyolok di antaranya bisa kita jumpai dalam bidang masakan.

Tiap-tiap daerah tentu mempunyai berbagai macam masakan yang pedas, namun ada juga daerah yang penduduknya menyukai masakan yang manis-manis dan serba gurih rasanya. Di samping itu tiap daerah juga memiliki makanan yang istimewa, yang sangat terkenal hingga membuat masing-masing daerah yang bersangkutan sangat termasyur di mana-mana, dan pikiran orangpun sering melayang pada makanan-makanan itu jika me nyebut nama-nama daerah yang_ bersangkutan.

Kota Yogya misalnya sangat terkenal karena gudegnya,hingga kota itu sering disebut "kota gudeg". Dan tidak jauh dari Yogya, di dekat candi Prambanan, kita bisa menjumpai suatu daerah yang tidak begitu luas bernama Kalasan, yang kecuali candinya juga sangat terkenal karena ayam gorengnya. Sementara itu di sebelah timur Kalasan terletak Sala, yang kecuali terkenal karena "Wong Sala"-nya yang mempunyai ciri kepribadian yang khas itu, juga sangat terkenal karena "sego liwet"-nya.

Masih di daerah Jawa Tengah, kita masih bisa menyebut Kudus yang sangat terkenal karena "soto" dan "jenang"-nya, Salatiga yang sangat terkenal karena "enting-enting gepuk"-nya, Brebes yang sangat terkenal karena "telur asin"-nya, Magelang yang sangat terkenal karena "getuk Trio"nya

Di daerah Jawa Barat, semenjak tempo doeloe kota Jakarta sudah sangat terkenal karena "nasi uduk"-nya sedangkan kota Garut sangat terkenal karena dodolnya. Sementara itu Sumedang sangat terkenal karena "tahu"-nya.

Bagaimana halnya dengan Semarang? Tidak ubahnya dg Yogya, Kalasan, Sala, Kudus, Salatiga Brebes Magelang, Jakarta,Garut,Sumedang dan banyak kota-kota yang lain di pulau Jawa, kota Semarang juga mempunyai makanan yang khas dan spesifik Semarang, yakni “tahu pong”.dan demikian terkenalnya “tahu pong” Semarang ini sampai-sampai kota Semarang pernah dijuluki sebagai “kota tahu pong”, tidak ubahnya dengan Yogya yang mendapat julukan kehormatan sebagai “kota gudeg”.

Tahu pong Semarang memang lain daripada yang lain. Jika masih mentah, bentuknya nampak biasa saja, akan tetapi, jika telah dipotong-potong dan, digoreng potongan-potongan tahu pong yang kecil-kecil itu dengan tiba-tiba mengembang, dan setelah diramu dengan sambal vang dibuat dengan menggunakan reramuan bumbu-bumbu yang khas Semarang, akan merupakan suatu hidangan yang benar-benar bisa menggoyang lidah.

Orang yang berjasa besar dalam. mentenarkan tahu pong Semarang itu ternyata seorang babah Tionghoa, yang di kalangan "wong Semarang" pada masa tempo doeloe lebih terkenal dengan nama Jawanya "bah Urip".

Pada kira-kira tahun 1920-an, babah Tionghoa yang berasal dari kampung Kentangan itu telah menjual tahu pong, di samping tahu biasa yang lazim disebut "tahu mplek" dan "gimbal urang”. Sebagai seorang penjual tahu dan gimbal urang Kesana kemari menggunakan sebuah pikulan,yang dipikul oleh seorang pembantunya. Dalam menyajikan dagangannya, ia biasanya ber jalan dimuka, dan pada saat-saat tertentu berteriak "hu" singkatan dari perkataan "tahu"!

Jarak jangkauan pasarannya tidak begitu luas. Setelah beberapa waktu lama nya mangkal di "regol" kampung Bubudan, biasanya ia bergerak ke kampung Bang' Anom dan dari Bang Anom menuju ke arah utara, menyusuri jalan Ambe ngan terus ke Pandean dan kemudian pulang kembali ke pangkalannya di kampung Bubudan. Walaupun demikian, masakan yang dijualnya sangat laris.

Belajar Dari Oei Tjoe

Rumah Oei Tjoe

Dalam buku Present Day Impressions Of The Far East And Prominent & Progressive Chinese at Home and Abroad, yang diterbitkan oleh The Globe Encyclopedia Company pada tahun 1917, dan berisi rekaman keterangan-keterangan berharga mengenai sejarah, penduduk perdagangan, industri dan sumber kekayaan alam di Tiongkok, Hongkong, Indochina, Malaysia dan  Indonesia, Oei Tjoe pernah diberi julukan sebagai seorang yang benar-benar ajaib, oleh karena sekalipun ia tidak mengetahui bahasa-bahasa asing, namun ia telah dapat mengurusi perdagangan yang besar.
 
Oei Tjoe hanya dapat membaca dan menulis dalam bahasa dan aksara Tionghoa saja, dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah .Walaupun demikian, karena ketekunan nya, kehematannya dan nasibnya yang baik, ia berhasil menjadi seorang pedagang yang kaya raya, di kota Semarang, yang mempunyai sebuah perusahaan besar yang kian lama kian berkembang, hingga pada tahun 1898 dapat membuka cabang di Pekalongan, dan, pada tahun 1904 di Singapura, sedangkan di Batavia tahun 1907. Disamping itu, ia juga memiliki cabang-cabang di Medan, Shanghai dan Amoy.

Oei Tjoe mempunyai sebuah kantor besar di Gang Tengah Semarang, yang mula-mula kecuali dipergunakan sebagai kantor bagi perusahaannya juga dipergunakan sebagai rumah pribadinya.

Pada tahun 1916, tepatnya pada bulan November, Oei Tjoe berhasil menyelesaikan pembangunan sebuah rumah besar di Peterongan yang dimaksudkan akan dipakai sebagai tempat tinggalnya. Setelah pembangunan itu selesai, iapun kemudian pindah ke tempat itu bersama-sama dengan semua anggauta keluarganya.

Istana itu dibangun dengan langgam arsitektur Eropa, dengan halaman yang sangat luas disertai dengan sebuah patung nyonya Belanda sedang mengacungkan tangannya. Di sebelah kirinya. dihiasi dengan gunung-gunungan yang terbuat dari batu, dan diantara gunung-gunungan itu nampak pula sebuah jembatan yang mengingatkan para pemandangan pada panorama alam dalam Iukisan klasik Tionghoa.

Semuanya, menyuguhkan suatu perpaduan yang sangat menarik dan anggun, Namun sayang, bahwa semua keindahan itu ternyata tidak berusia lama. Karena sekarang justru telah lenyap sekalipun gedungnya masih ada, dan sisa dari gunung-gunungah itupun masih ada pula.
 
Demikianlah sedikit riwayat dari seorang hartawan di kota Semarang pada masa tempo doeloe, yang bernama Oei Tjoe, yang mula-mula hanyalah seorang pedagang kopi yang miskin saja, namun berkat keuletannya, berkat kehematannya berkat kejujurannya dan berkat bintang nasibnya, pada akhirnya telah berhasil memuncak, hingga menjadi seorang pedagang besar yang kaya raya.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dan suri tauladan dari kunci suksesnva itu.

Pedagang Yang Maju

Peta Rumah Oei Tjoe

Kian lama usaha Oei Tjoe kian maju hingga pada th 1898 berkat kejujurannya ia berhasil mendapatkan kepercayaan dari beberapa buah perusahaan perkebunan kopi untuk membeli kopi langsung dari mereka, dan pada tahun 1904 berhasil pula mendapatkan kepercayaan dari beberapa orang agen untuk membeli gula langsung dari pabrik-pabrik gula.
 
Mula-mula ia tidak begitu banyak membeli gula dari agen-agen itu, tetapi mungkin sekali sudah menjadi suratan takdir, dalam bidang perdagangan gula ini usaha nya kian lama justru kian memuncak, hingga pada dasawarsa kedua dalam abad ke XX, ia sudah menjadi salah seorang tokoh besar dalam bisnis perdagangan gula di Hindia Belanda.

Hal yang terakhir itu, dengan jelas dapat dilihat dari omzet perdaganganya. Untuk tahun 1917 misalnya, sebelum tahun itu mulai, ia telah membeli sebanyak 5.000.000 pikul atau 300.000 ton gula. Oei Tjoe melempar gula yang telah dibelinya ke berbagai daerah di Nusantara, ke Malaysia, India, Saigon, Hongkong dan Shanghai, dan sebagian lagi dijualnya pada berbagai perusahaan perdagangan Eropa di Semarang, yang selanjutnya mengeksport gula itu ke benua Eropa.

Kecuali dari agen-agen pabrik gula, Oei Tjoe juga membeli gula yang diper dangkannya dari para pedagang Tionghoa, di samping juga menjual gula itu kepada mereka.

Sangatlah sukar untuk membuat perkiraan, betapa kiranya besar jumlah gula yg telah diperdagang kan oleh Oei Tjoe. Dasar yang paling baik untuk membuat perkiraan mengenai hal itu, kiranya ialah angka-angka yang dapat di kumpulkan dari para makelar yang berhubungan dengannya. Dari para makelar itu, pada tahun 1916 kita dapat mengumpulkan angka 25.000.000 pikul, dan ini berarti, bahwa pada tahun 1916, sebagian besar dari produksi gula di Jawa berada di tangan Oei Tjoe.

Sebelum pecahnyaa Perang Dunia I, modal dan kekayaan Oei Tjoe "hanya" berjumlah f.1.000.000 saja. Namun tiga tahun kemudian, berkat ketidakstabilan pasaran gula di pulau Jawa, sebagai akibat dari Perang Dunia I kekayaan itu dengan cepatnya telah dapat naik melonjak, hingga mencapai suatu jumlah yang tidak tanggung-tanggung sebesar f. 8.000.000

Dan tidak hanya itu saja di samping kekayaan sebesar itu, Oei Tjoe juga masih memiliki banyak kekayaan lagi di kota Semarang, Betawi, Singapura dan di berbagai tempat di Tiongkok.

Selain berdagang gula, Oei Tjoe juga bergerak dalam bidang perdagangan kopi, biji-bijian, di samping berdagang beras, yang dibelinya dari Siam, Saigon dan Rangoon.

Siapakah Oei Tjoe?

Gang Tengah Di Pecinan

Tidak begitu jauh dari pasar Peterongan, terdapat sebuah gedung besar, yang di tahun 1970an dipakai sebagai gedung sekolah STM Negerl II Semarang. Dari tampak bangunan, jelas benar bahwa gedung itu aselinya tentu bukan merupakan sebuah gedung sekolah melainkan hanya merupakan sebuah gedung besar milik seorang partikelir saja.

Di halaman gedung itu, hingga tahun1970an masih terdapat hiasan gunung-gunungan, terbuat dari batu, dengan hiasan semacam bangunan kecil yang mempunyai sebuah kubah bagaikan kubah sebuah gereja, dan seekor burung garuda sedang hinggap beraga sambil merentangkan sayapnya. Adanya hiasan gunung-gunungan ini bisa mendorong siapapun juga yang melihatnya, dengan cepat sampai pada kesimpulan, bahwa gedung yang sekarang dipakai oleh STM Negeri II di Semarang itu, aslinya memang bukan merupakan sebuah gedung sekolah, sebagaimana dipancarkan oleh raut wajahnya melainkan justru merupakan sebuah rumah milik seorang partikelir saja yang kaya raya.

Dari dokumentasi mengenai sejarah kota Semarang dapatlah kita ketahui, bahwa gedung  itu pada awal mulanya memang milik seorang hartawan di kota Semarang, yakni seorang miliuner Tionghoa dari Gang Tengah bernama Oei Tjoe, yang pada masa awal abad ke-XX merupakan seorang pedagang besar di kota Semarang.

Sebagai seorang pedagang Oei Tjoe mempunyai riwayat yang sedikit unik. Tidak seperti halnya Oei Tiong Ham yang memulai jenjang karier dengan bekerja pada ayahnya sendiri. yang pada waktu itu sudah menjadi seorang pedagang yang kaya raya di Semarang, Oei Tjoe justru memulai lembaran kariernya dengan menjadi seorang pedagang yang sangat miskin.

la dilahirkan di Tiongkok di distrik Lam Ann, tidak begitu jauh dari Amoy, pada tahun 1878 dan dalam usia 10 tahun kemudian pergi merantau ke pulau Jawa mengadu nasib dengan menjadi seorang pedagang kopi di Semarang. Tiap hari dengan membawa pikulan pergi mengunjungi kampong-kampung di kota Semarang untuk menjajakan dagangannya. Modalnya pada waktu itu hanya f 5, saja.
 
Karena kerajinan dan kehematannya, empat tahun kemudian, pedagang kopi cilik dari Tiongkok itu telah berhasil membuka sebuah warung kecil, yang menjual gula, kopi teh, beras, korek api, barang-barang spesifik Tiongkok dan sebagainya.

Akhir Sebuah Koran

Surat Kabar De Locomotief

Brooshooft meninggalkan jabatannya pada tahun 1903. dua tahun  setelah ia mener bitkan tulisannya yng sangat terkenal "De Ethische Koers in de Nederlandse Koloniale Politiek", suatu program pembaharuan ke tatanegaraan vang sangat layak dan luas yang nota bene juga merupakan karya nya yang terakhir.

Sekitar tahun 1910 Semarang telah menjadi salah satu pusat kegiatan kaum nasionalis di Indonesia. J.E Stokvis yang pada waktu itu menjadi pemimpin redaksi harian De Locomotief adalah seorang liberal yang menaruh banyak simpati terhadap gerakan-gerakan kaum nasionalis di Semarang. Setelah ia meninggalkan De Locomotief pada tahun 1917, ia memegang peranan yang penting dalam partai Sosialis - Demokrat di Negeri Belanda, sementara A.Lievegood yang menggantikannya juga telah meneruskan jejaknya, bertentangan  dengan kebanyakan  harian-harian yang terbit pada waktu itu, mendendangkan kepentingan-kepentingan penjajahan Belanda saja.

Tahun 1926 merupakan suatu tahun musibah bagi De Locomotief. Pada waktu itu sebagian dari wartawannya telah dipengaruhi oleh aliran komunis. Akibatnya, sedikit banyak terasa dalam lembaran yang digarapnya.Karena peristiwa ini De Locomotief kehilangan sangat banyak langganan dan para pemasang iklannya.

Lievegoed sendiri kemudian telah mengundurkan diri. Pengunduran itu telah menimbulkan effek yang cukup dalam bagi De Locomotief. Setelah pengunduran Lievegoed tersebut, De Locomotief mengambil sikap yang konservativ, suatu sikap yang terus dipertahankannya hingga pecahnya perang Dunia II.
 
Pada tgl 1 September 1947 De Locomotief berusaha untuk bangkit kembali. Namun ternyata ia tidak bisa berlahan lama. Tepat pada tanggal. 9 Maret 1956 ia telah minta diri pada para pembacanya untuk mengakhiri riwayatnya. Tiada kata-kata perpisahan telah disampaikan lewat penerbitannya yang terakhir itu. Hanya dua patah kata memberi tanda pada para pembacanya bahwa esok hari ia tidak akan hadir lagi di mejanya. Dan kata-kata itu terpancang di halaman pertama tidak lain ialah ' Laats te Editie" - "Penerbitan Yang Terakhir".

Dengan penerbitan itu berakhirlah sudah riwayat sebuah surat kabar  yang oleh salah seorang bekas redaksi nya pernah disebut sebagai "Een unicke bladzijde" - "Sebuah lembaran yg unik", sebuah surat kabar Belanda yang telah berhasil mencapai usia lebih dari 100 tahun, yang hanya dapat ditandingi oleh harian "Java Bode' dari Batavia.

Masa usia seratus tahun merupakan suatu masa usia yang sangat didambakan oleh sebuah surat kabar. Jubelium semacam itu tentunya akan dirayakan dengan penuh suka cita, setidaknya dengan menerbitkan sebuah penerbitan khusus.

Demikian juga halnya dengan De Locomotief. Untuk menyambut peristiwa yang sangat bersejarah itu, tepat pada tgl. 23 Mei 1951 ia telah muncul dengan sejumlah lembaran ekstra, diantaranya yang sangat istimewa berupa lembaran-lembaran mengenai sejarah kota Semarang, dengan menampilkan beberapa buah karangan dari beberapa orang penulis diantaranya dari van Berkum yang semasa hidupnya pernah menjadi  bibliothecaris di Semarang.

Bagi kepentingan ilmu sejarah, suatu surat kabar dengan usia lebih dari seabad dan terbit terus menerus, sudah terang mempunyai arti tersendiri, yang tiada ternilai.
 
Dengan usia yang demikian lama, kejadian-kejadian penting di suatu daerah, di mana surat kabar itu terbit, telah dapat direkam menurut tertib waktu, dengan tidak ada kekhawatiran mengenai salah tanggal dan masanya.

Demikianlah bagi sejarah kota Semarang  harian De Locomotief mempunyai nilai yang sangat istimewa. Kejadian-kejadian penting di kota Semarang, selama lebih dari seratus tahun semenjak harian itu terbit pada tahun 1851, dengan mudah akan dapat dijumpai dengan membalik-balik kembali lembaran-lembaran kuno dari harian De Locomotief.

Karena itu berbahagialah masyarakat Semarang karena pernah memiliki De Locomotief, Een unieke bladzijde.